Psikolog: Pecandu Narkoba Umumnya Cenderung Berbohong

0
577

 

Pusatrehabilitasi.org – seorang Psikolog Kasandra Putrantro mengatakan bahwa pada umumnya pecandu narkoba sering berbohong. Hal ini dilihat lantaran pecandu sulit untuk jujur karena dihadapkan dengan sisi keburukannya. Karenanya, dibutuhkan pendekatan secara akademik untuk menelaah bagaimana psikolog pecandu narkoba.

“Pada umumnya para pecandu itu sering berbohong, sulit untuk dipercaya. Karena bagian dari karakternya itu,tidak menyampaikan hal yang sebenarnya. Secara umum seperti itu,” kata Kasandra saat dihubungi, Minggu (31/7).

Kasandra menerangkan, pada umumnya pecandu narkoba, apalagi pengguna berat sering kali memberikan pernyataan tidak sesuai faktanya. Dia menilai, bahkan pecandu narkoba sulit membedakan mana yang benar, dan mana yang tidak.

Di sisi lain, lanjut Kasandra, prilaku pecandu narkoba bisa menunjukkan sikap yang berbeda-beda tergantung dari jenis narkoba yang dikonsumsinya. Pertama, pengguna sabu-sabu bisa mengakibatkan penggunanya berhalusinasi dan meningkatkan aktivitas. Kedua, pengguna ganja bisa menyebabkan melambatnya respon otak dan halusinasi. Ketiga, ekstasi bisa meningkatkan imajinasi dan juga berhalusinasi.

Menurut dia, jika ingin disandingkan bagaimana keadaan jiwa Fredi, maka perlu dipelajari narkoba jenis apa yang digunakannya. Sehingga bisa disimpulkan cenderung ke mana arah psikologi Fredi.

“Kemudian bisa dilakukan analisis terhadap prilaku yang bersangkutan selama masih hidup. Karena sudah meninggal, bisa dilakukan metode amnamnesis. Interview terhadap orang-orang yang dekat kepada dia, kemudian menginterview ke beberapa orang yang sering diajak ngomong sama dia beberapa waktu sebelumnya,” jelas Kasandra. Setelah pendekatan itu, kata Kasandra, bisa disimpulkan, apakah seseorang itu cenderung berbohong apa tidak.Dari situ juga bisa dipetakan.

“Karena ada juga dalam psikolog itu, ada juga dis orientasi ruang dan waktu. Misalnya seseorang itu tidak pernah berada di Tionkok, tapi mengaku pernah ke sana,” terang Kasandra.

Secara aspek psikologi, penyebab seseorang mengonsumsi narkoba adalah:

  • Kurangnya rasa percaya diri sehingga ingin terlihat gaya dengan konsumsi narkoba
  • Ketidak mampuan mengelola masalah yang dihadapi dan stress.
  • Coba- coba dan berpeluan untuk memperoleh pengalaman baru
  • Ikatan dengan komunitas atau gen
  • Menghilangkan rasa sakit, bosan, cemas, dan lainnya
  • Menunjukan sikap pemberontakan dan kehebatan dan kekuasaan
  • Mencari tantangan yang beresiko
  • Merasa dirinya dewasa
  1. Faktor Obatnya/Zat, dengan eyakini bahwa obat bisa membantu menumbuhkan rasa percayam diri dan mampu mengurangi beban atau stress yang dialami.
  2. Faktor Lingkungan
  3. Hubungan keluarga yang tidak harmonis, broken home, dan adanya penggunakan narkoba oleh anggota keluarga lainnya.
  4. Pengaruh Teman, sangat berpengaruh pada seseorang. Jika seseorang memilih teman yang menggunakan narkoba maka seorang itupun ikut menggunakannya. Juga adanya tekanan, ancaman akan dikucilkan dan lainnya dari teman jika kita ingin berhenti mengonsumsinya.
  5. Pendidikan, kurangnya pendidikan ilmu dan agama sehingga anak menyimpang pada perbuatan yang tidak baik seperti narkoba.
  6. Lingkungan masyarakat, jika lingkungan masyarakat tidak baik, maka akan berpengaruh juga pada perilaku remaja.
  7. Dampak Psikologis remaja akibat penggunaan narkoba:
  8. Cenderung menyakiti diri, perasaan tidak aman, bahkan bunuh diri
  9. Mempunyai sifat yang mudah kecewa dan temperamental , emosi yang tidak stabil, berbicara dan bertindak kasar,  sikap membangkang, agitatif, cenderung agresif , berperilaku ganas dan brutal serta destruktif/merusak.
  10. Keinginan tidak bisa menuggu, yang harus terpenuhi segera.
  11. Kurang percaya diri, cenderung apatis, penghayal, sensitive , selalu curiga, sulit konsentrasi, selalu tertekan, murung, selalu cemas, bersikap tegang, merasa merasa tidak mampu berbuat sesuatu yang berguna dalam hidup sehari-hari dan kurang mampu menghadapi stres.
  12. Suka mencari sensasi, melakukan hal-hal yang berbahaya atau mengandung risiko.
  13. Lamban dalam suatu pekerjaan, kurang aktif dalam pendidikan, pekerjaan, atau kegiatan lain. rendahnya prestasi belajar, partisipasi dalam kegiatan-kegiatan di luar sekolah kurang, kurang olahraga, malas dan sering melupakan tanggung jawab dan tugas-tugas rutinnya
  14. Jauh dari keluarga, sering bertemu dengan orang yang tidak dikenal keluarga, pergi tanpa pamit dan pulang lewat tengah malam
  15. Suka menyendiri didalam suatu ruangan.
  16. Menjadi pembohong dan ingkar janji.

 

  1. Solusi remaja berhenti menggunakan narkoba, dan cera pencegahan pemakaian kembali.
  2. Yang dilakukan oleh pemerintah:
  3. Primer, memberikan pendidikan, pengetahuan dan penyebaran informasi tentang bahaya penyalahgunaan narkoba, melakukan pendekatan melalui keluarga, dan Instansi pemerintah, seperti BKKBN, lebih banyak berperan pada tahap intervensi ini. kegiatan dilakukan seputar pemberian informasi melalui berbagai bentuk materi KIE yang ditujukan kepada remaja langsung dan keluarga.
  4. Sekunder, tahap penyembuhan (treatment). Fase ini meliputi: Fase penerimaan awal (initialintake)antara 1 – 3 hari dengan melakukan pemeriksaan fisik dan mental, dan Fase detoksifikasi dan terapi komplikasi medik, antara 1 – 3 minggu untuk melakukan pengurangan ketergantungan bahan-bahan adiktif secara bertahap.
  5. Tertier, tahap rehabilitasi sebagai penyembuhan mereka yang menggunakan narkoba.
  6. Yang dilakukan oleh masyarakat:

Menggunaka beberapa cara pendekatan yaitu:

  1. Pendekatan agama (religius), dengan cara menanamkan ajaran agama yang mereka anut tentang berbuat kebaikan, menjauhi segala hal yang buruk atau kerusakan pada dirinya, keluarga, maupun lingkungan sekitar.
  2. Pendekatan psikologis, dengan memberikan nasehat, melakukan pembicaraan dari hati- ke hati oleh orang- orang yang terdekat dengannya yang sesuai dengan karakter kepribadian mereka.
  3. Pendekatan social, menyadarkan mereka bahwa mereka merupakan bagian penting dalam keluarga dan lingkungannya. Dengan cara sepeti itu, diharapkan mereka bisa merasakan bahwa kehadiran mereka di tengah keluarga dan masyarakat memiliki arti penting.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here