FB_IMG_1457188822140Teladan Rasulullah saw Dalam Bersedekah

Dalam sebuah kesempatan, Rasulullah saw. hadir di masjid dan mengimami shalat. Para sahabat melihat pergerakan beliau antara satu rukun ke satu rukun yang lain amat sukar dan lambat sekali. Mereka pun mendengar bunyi menggerutup seolah sendi-sendi pada tubuh Rasulullah saw. bergeser antara satu sama lain. Setelah selesai shalat, Umar bin Khattab bertanya, “Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah Anda menanggung penderitaan yang amat berat. Sakitkah Anda, ya Rasulullah?”

“Tidak, wahai Umar. Alhamdulillah, aku sehat.”

“Ya Rasulullah, mengapa setiap kali Anda menggerakkan tubuh, kami mendengar seolah-olah sendi bergesekan di tubuh Anda? Kami yakin Anda sedang sakit…!” desak Umar penuh cemas.

Akhirnya, Rasulullah saw. mengangkat jubahnya. Para sahabat dibuat terkejut. Perut beliau yang kempis dibaluti sehelai kain berisi batu kerikil untuk menahan rasa lapar. Batu-batu kecil itulah yang menimbulkan bunyi-bunyi halus setiap kali manusia mulia ini menggerakkan badannya.

“Ya Rasulullah, apakah jika Anda menyatakan lapar dan tidak punya makanan, kami tidak akan mendapatkannya buat Anda?”

Beliau menjawab dengan lembut, “Tidak para sahabatku. Aku tahu, apa pun akan kalian korbankan demi aku. Namun, apa yang harus aku katakan di hadapan Allah nanti apabila aku sebagai pemimpin menjadi beban umatnya? Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah dari Allah untukku agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia ini, lebih-lebih kelaparan di akhirat.”

Pada lain kesempatan, Umar bin Khattab bercerita, “Aku pernah menemui Rasulullah saw. yang sedang terlentang di atas tikar. Setelah aku duduk, kulihat beliau hanya mempunyai satu selimut tanpa yang lain. Tikar itu meninggalkan bekas menggurat di punggungnya. Aku pun melihat ada gandum kira-kira segenggam hingga satu sha’ dan daun salam untuk menyamak kulit di pojok ruangan, juga ada selembar kulit yang sudah disamak. Aku sangat sedih hingga menitikkan air mata.”

“Apa yang membuatmu menangis wahai Ibnu Khattab?” tanya Nabi saw. ingin tahu.

“Wahai Rasulullah, bagaimana aku tidak menangis. Tikar ini telah meninggalkan bekas di punggungmu. Lemarimu itu tidak ada yang dapat aku lihat selain yang ada di depan mataku, sedangkan Kaisar Parsi dan Romawi berada di antara buah-buahan segar dan sungai jernih yang mengalir. Padahal, engkau adalah nabi Allah dan hamba-Nya yang paling mulia.”

Rasulullah saw. menjawab, “Wahai Ibnu Khattab, apakah engkau belum rela kita yang memiliki akhirat sedang mereka hanya memiliki dunia?”

Itulah sekelumit kisah kebersahajaan Rasulullah saw. Beliau sangat tawadhu dan sederhana dalam makanan, pakaian, dan tempat tinggalnya. Beliau berpakaian dan menempati rumah sama seperti orang-orang kecil di sekitarnya: tidak ada kemewahan, glamor, dan simbol-simbol duniawi yang menandakan tingginya kedudukan beliau di antara umatnya. Padahal, sejarah mencatat beliau sebagai orang yang memiliki penghasilan besar untuk ukuran zamannya. Kalau mau, apa pun bisa beliau beli. Selain pernah menjadi seorang saudagar kaya, Rasulullah saw. pun mendapat hak atas ganimah atau harta rampasan perang. Allah Swt. telah menetapkan jatah yang berhak beliau miliki sebagaimana firman berikut.

”Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah, ‘Harta rampasan perang itu milik Allah dan rasul (menurut ketentuan Allah dan Rasul-Nya), maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu orang-orang yang beriman’.” (QS Al Anfal, 8: 1)

Kalau kita buat kalkulasi dari semua peperangan yang beliau lakukan dan besarnya ganimah yang didapat, harta yang menjadi hak Rasulullah saw. sangatlah besar. Sebagai contoh, seperlima harta rampasan perang Hunain saja (yang menjadi hak beliau) mencapai 8000 ekor domba, 4800 ekor unta, dan 30 gram perak. Ke mana harta sebanyak itu? Sedikit saja harta yang sampai ke rumah beliau. Hampir seluruhnya beliau bagikan kepada fakir miskin dan orang-orang yang lebih membutuhkan. Rasulullah saw. ketika itu bersabda sebagai berikut.

“Sesungguhnya, harta itu hijau dan manis. Barang siapa mengambilnya dengan kedermawanan hati, maka akan diberkahi; barang siapa mengambilnya dengan keserakahan, maka tidak akan diberkahi. (Jika tidak diberkahi, maka dia) seperti orang yang makan, tapi tidak pernah kenyang. Tangan di atas (memberi) lebih baik daripada tangan di bawah (diberi).” (HR Muslim)

Tinta sejarah telah menuliskan bahwa Rasulullah saw. adalah seorang dermawan sejati. Saat meninggal, beliau tidak meninggalkan warisan apa-apa untuk keluarganya, selain beberapa potong pakaian yang tidak baru lagi dan sebuah baju besi yang dijaminkan kepada seorang Yahudi. Rasulullah saw. seringkali kelaparan, sebagaimana dikisahkan pada bagian awal tulisan ini. Andaikan beliau makan, jumlah makanan yang beliau konsumsi sangat sedikit dan sederhana pula. Kelebihannya beliau sedekahkan kepada ahlu shuffah dan orang-orang miskin. Beliau tidak berpakaian kecuali dari bahan kasar dan murah harganya. Beliau tidak tidur kecuali dialasi pelepah daun kurma yang dimodifikasi menjadi kasur. Beliau sangat takut apabila di rumahnya tersisa sedikit saja harta yang belum dibagikan.

Abu Dzar pernah berkisah bahwa suatu hari dia berjalan bersama Rasulullah saw. di sebuah tanah lapang di Madinah hingga di hadapan keduanya terlihat Jabal Uhud. Setelah menyapa Abu Dzar, Rasulullah bersabada sebagai berikut.

“Tidak akan pernah membuat senang memiliki emas seperti Jabal Uhud ini, jika sampai melewati tiga hari dan aku masih memiliki satu dinar kecuali yang aku gunakan untuk melunasi utang. Jika aku memilikinya, pasti akan aku bagi-bagikan semuanya tanpa sisa dan aku katakan kepada hamba-hamba Allah begini, begini, begini (beliau mengisyaratkan arah kanan, kiri, dan belakangnya)’.” (HR Bukhari dan Muslim)

Tidak berlebihan kiranya jika Abdullah bin Abbas, putra pamannya, mengatakan bahwa tidak ada orang paling dermawan yang pernah dia temui selain Rasulullah saw. Pada bulan Ramadhan lebih dahsyat lagi. Kedermawanan beliau bagaikan angin berembus karena sangat mudahnya beliau bersedekah.

“Rasulullah saw. adalah manusia paling dermawan. Puncak kedermawanannya terjadi pada bulan Ramadhan ketika Jibril mendatangi beliau… Sungguh, Rasulullah saw. lebih dermawan dan pemurah dengan kebaikan seperti angin yang berembus.” (HR Bukhari Muslim)

Tidak hanya harta benda, semua hal yang layak diberikan dan beliau miliki, pasti diberikan kepada siapa saja yang membutuhkan. Memberi dan terus memberi tanpa mengharap kembali, itulah Rasulullah saw., nabi kita semua.

Rabi’ binti Ma’udz bin ‘Urfa pernah berkisah bahwa suatu ketika ayahnya mengutus dia membawakan satu sha’ kurma basah dan mentimun halus untuk dihadiahkan kepada Rasulullah saw. Beliau memang sangat menyukai mentimun. Kebetulan, saat itu ada utusan yang mengirim hadiah berupa perhiasan emas yang banyak dari Bahrain. Ketika melihat Rabi’, Rasulullah saw. segera mengambil emas-emas itu hingga telapak tangan beliau dipenuhi emas. Apa yang terjadi? Di luar dugaan Rabi’ binti Mu’adz, beliau memberikan emas-emas tersebut kepadanya.

“Maka beliau memberikan perhiasan atau emas sepenuh telapak tanganku, lalu bersabda, ‘Berhiaslah engkau dengan ini…!’” (HR Ath Thabrani dan Ahmad)

Atas akhlak Rasulullah saw., William Moir, seorang pujangga asal Perancis, mengungkapkan kekagumannya pada pribadi Rasulullah saw. “Sederhana dan mudah adalah gambaran hidupnya. Perasa dan adabnya adalah sifat yang paling menonjol dalam pergaulan beliau dengan pengikutnya yang paling rendah sekalipun. Tawadhu, sabar, penyayang, dan mementingkan orang lain lagi dermawan adalah sifat yang selalu menyertai pribadinya dan menarik simpati orang-orang di sekitarnya.

“Wahai anak Adam,
sesungguhnya jika engkau memberikan kelebihan hartamu,
itu sangat baik bagimu. Jika tidak, itu sangat jelek bagimu.
Engkau tidak (akan) dicela karena kesederhanaanmu.
Dahulukanlah orang yang menjadi tanggunganmu.
Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”
— HR muslim —

LEAVE A REPLY